Getting Password

Untitleddsbadjb

Hello my lovely readers,

Oke, tentu kamu tahu apa maksud dari postingan ini. Langsung saja…

Jika kamu merasa kesulitan atau bingung bagaimana cara mendapatkan Password untuk beberapa Fanfiction yang terproteksi, kamu bisa memintanya di sini. Caranya:

  • Cantumkan E-mail yang masih aktif.
  • Cantumkan Judul Fanfiction yang kalian inginkan password-nya.
  • Atau bisa juga melalui personal twitter saya, di sini: @dwilianzanny

P.S.

  1. FF yang diproteksi bukan berarti FF yang NC-Rated, karena tujuan awalnya adalah untuk meminimalisir plagiarism dan mengurangi siders.
  2. Jika saya sudah kirimkan password-nya, komen kamu akan saya Rate Up agar kamu tahu saya sudah membalasnya.
  3. Mohon maaf bila adanya peraturan ini membuat kalian kurang nyaman.

Terimakasih banyak atas kunjungannya, jangan pernah sungkan dan bosan ya 🙂

Iklan

Welcome!

BeFunky_tumblr_lfgmykf8cf1qegjjto1_500.jpg

Hello, how are you?

I’m author here, presents some fiction that I had, to be enjoyed by you as a reader.
Frequently stopped here, I would be happy to welcome you all.

But remember, please leave a trail, either comments or other, as a form that you respect me as an owner here.

The Antagonist [Shot; 3]

 

1. Lee Ahreum

 

Seperti biasa, Soojung sibuk mengerjakan PR di kamarnya, sedangkan rumah ditinggalkan dalam keadaan sepi. Hanya ada beberapa pelayan yang membersihkan perabotan yang kutemui saat aku masuk. Mungkin Appa dan Eomma—sebenarnya aku malas menyebutnya begitu—belum pulang dari perjalanan bisnisnya. Entahlah, kau pikir aku peduli.

 

“Kemana si tua bangka?” tanyaku pada salah seorang pelayan yang melewatiku.

 

“Pergi menemui teman bisnisnya, Nona.”

 

Dasar orang sok penting, sudah bau tanah, masih saja gila harta.

 

“Mm, arraseo,” sahutku, sembari memberi kode pada si pelayan untuk kembali bekerja.

 

Segera, aku menghambur menuju kamar, bersiap-siap menghadiri pesta yang diadakan oleh Injung. Berkali-kali Jiyeon menghubungiku, menanyakan keberadaanku, sebab dia sudah berangkat bersama yang lain menuju rumah Injung. Aku hanya membalas, kalau kemungkinan aku telat datang kesana. Ini waktu yang baik untuk kabur dari rumah lagi. Biasanya aku pergi jika rumah dalam keadaan sepi. Terkadang Appa akan bertindak menyebalkan jika dia tahu aku kabur, lantas mencariku sampai ketemu, tidak peduli apakah aku sedang menikmati pesta atau menghabiskan malam di pub.

 

Malam ini aku mengenakan dress bertali tipis berwarna hitam, menampakkan lekuk tubuhku begitu sempurna, serta memperlihatkan kakiku yang jenjang. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk berdandan, aku meraih tas kecil yang kugantungkan di dalam lemari, lantas beranjak meninggalkan kamar. Sebisanya aku melewati kamar Soojung, agar dia tidak mendengar suara hak sepatuku yang bersenggolan dengan ubin. Bibirku mengerucut miring, harap-harap cemas andai Soojung memergokiku lagi.

 

Aku baru bisa mengembuskan napas lega begitu sampai di garasi. Tidak mau menunggu lama, kugas mobil Audi R8 yang menjadi kendaraan pribadiku, meninggalkan garasi dan pagar utama rumah bersama kepulan asap yang tertinggal—melesat kencang menuju rumah Injung. Yaha! Pesta!

 


 

Saat kakiku menginjak lantai marmer rumah ini, pandangan mataku berhenti pada beberapa gadis-gadisku. Mereka melambaikan tangan, memberi kode padaku agar secepatnya mendekat. Kelihatannya mereka sudah berada dalam pengaruh alkohol, menari-nari mengikuti suara musik yang menghentak kencang, dan berseru layaknya anak kecil. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku melihat tingkah mereka, kemudian meraih segelas wine.

 

Membiarkan kawan-kawanku berdansa liar, aku berjalan menghindar. Kuteguk wine dalam genggamanku, sambil mengedarkan pandangan ke seantero tempat. Injung yang kali ini mengenakan dress tanpa lengannya yang seksi, tampak meliuk-liuk bersama kawan-kawannya—tertawa keras tanpa memedulikan sentuhan-sentuhan tangan teman lelakinya.

 

Aku mudah jengah, juga ingin menghilangkan berbagai pikiran yang berkecamuk dalam kepalaku. Ingin melupakan semua omelan, perbandingan, segala hal yang kuterima setiap saat, juga… si brengsek yang telah mencuri ciuman panas dariku.

 

Tatapanku berhenti pada satu sosok yang tak jauh dari tangga. Dia mengerlingkan matanya padaku, yang kusambut dengan senyuman miring. Jay Park, siapa lagi. Kutaruh gelas berkaki panjang ke atas meja, sebelum kemudian berjalan mendekati Jay yang menungguku di bawah tangga.

 

Tanpa menunggunya memulai terlebih dahulu, aku menautkan bibirku padanya, menciumnya. Dia mencium balik, dan menarik pinggangku lebih dekat. Tak kuhiraukan suara-suara keras dalam ruangan ini, ataupun memedulikan tatapan seseorang yang berada tidak jauh dariku. Aku merasakan adanya tatapan asing, namun tidak mampu mengalihkan perhatianku. Tatapan itu hanya memiliki daya yang lemah untuk menarik perhatianku.

 

Tidak ada perasaan lain yang kurasakan saat mencium Jay. Seperti jantung yang berdetak lebih cepat, atau aliran darah yang deras, juga sengitan kecil pada kulitku—tidak ada, sama sekali tidak. Rasa aneh seperti itu sudah lama menghilang, tidak pernah kurasakan lagi setelah sekian lama, kecuali saat… Brengsek, kenapa aku justru mengingat momen menjijikkan itu?

 

Tanpa mengalihkan pandanganku darinya, Jay menarik pergelangan tanganku, menjauhi kerumunan orang yang asyik berdansa. Kami berjalan menaiki tangga, sambil sesekali berhenti ketika dia kembali meraup bibirku. Mudah ditebak tipe anak laki-laki seperti dirinya. Ya, aku tahu kalau dia termasuk dalam barisan playboy di sekolah, tapi aku tidak peduli. Aku bahkan tidak peduli pada diriku sendiri.

 

Jay membawaku masuk ke dalam salah satu kamar di rumah Injung. Dia menutup pintu, sampai terdengar bunyi derakan samar, kemudian menampilkan senyuman manis di balik seringaian liciknya. Satu langkah semakin mendekatiku, dia menarik daguku, lalu menekan kembali bibirnya pada bibirku, menggigit bibir bawahku. Dia mendorongku perlahan ke belakang, hingga kakiku terantuk pinggiran ranjang, membuatku jatuh di atas ranjang. Dalam sekejap saja tubuh Jay sudah ada di atas tubuhku. Kepalanya bergerak meninggalkan bibirku, beralih menuju leherku, mengisapnya, menggigitnya, sampai membuatku mengerang pelan. Tangannya bergerak cekatan menurunkan tali dress-ku, sedangkan aku lebih tertarik untuk membuka kancing kemejanya.

 

Jika hanya ini yang membuatku senang dan menghindari tekanan, maka akan kulakukan.

 


 

2. Kim Jongin

 

Beberapa menit yang lalu aku sempat melihat gadis berambut coklat gelap di depan mataku, Lee Ahreum, berjalan menaiki tangga bersama salah seorang teman lelakinya. Aku tidak mengenal dekat anak laki-laki yang berjalan bersama Ahreum. Namun cukup mengetahui bahwa nama anak laki-laki itu adalah Jay Park, playboy sekolah yang mendapatkan kehormatan sebagai ketua anak-anak populer di Hannyoung Senior High ini.

 

Sudut bibirku terangkat memikirkan gadis itu. Bukan pikiran positif semisal mengkhawatirkan keadaannya jika sudah berurusan dengan Jay, sama sekali bukan. Tapi pikiran-pikiran negatif yang dipenuhi oleh sebuah hasrat balas dendam, kebencian, dan rangkaian kata-kata merendahkan.

 

“Hei, kau anak baru itu, ‘kan?” seorang gadis datang mengagetkanku sembari melingkarkan lengannya pada leherku, tanpa memedulikan lirikan sinis yang menyorot dari kedua lensa mataku.

 

“Seperti yang kau ketahui,” balasku diiringi nada sambil lalu.

 

“Tampaknya kau tidak terlalu menikmati pestanya, hm?” gadis itu menarik dirinya lebih dekat ke tubuhku, hingga dadanya yang besar menempel erat dadaku. “Aku, Park Jiyeon.”

 

“Kau mabuk berat, Girl.” Mengamati keadaan Jiyeon yang sempoyongan dengan sebelah tangan menggenggam gelas berkaki panjang, aku mendengus pelan. “Pulang dan tidurlah,”

 

“Tidak ada yang boleh menyuruhku pergi. Tidak juga kau, Babe.”

 

Sedikit mendorong tubuhnya, aku berusaha melepaskan diri dari cengkraman gadis itu. Diam-diam dia merutuk kesal dan menyesali kehadirannya di pesta kali ini. Entah karena alasan apa—apa peduliku, lagipula.

 

Tanganku menarik pergelangan tangannya, lantas membawa Jiyeon ke sebuah sofa panjang di mana terdapat beberapa gadis-gadis cantik mengelilingi seorang anak laki-laki yang memiliki garis wajah yang sama denganku, namun perbedaannya ada pada warna rambut; lelaki itu berwarna pirang kecoklatan sedangkan aku hitam legam.

 

“Taem, aku mau dia tetap ada di sebelahmu,” kataku sambil mendorong pelan tubuh gadis dalam dekapanku sampai berdempetan dengan anak lelaki yang tidak lain adalah sepupuku, Kim Taemin.

 

Membalas perintahku, Taemin memutar bola matanya jengah. “Fuck you, Bro.”

 

Mengabaikan nada kesal Taemin, aku beranjak pergi, membiarkan si gadis sialan itu yang kini disibukkan bersama Taemin dan beberapa gadis-gadis. Sengaja aku membawa si bungsu Kim sekedar untuk menemaniku di rumah Injung. Meskipun Taemin bukanlah bagian dari murid Hannyoung Senior High.

 

Menghindari dentuman musik kencang, aku menepi di sebuah kolam renang sembari mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya. Asap putih berhembus dari mulutku. Yang kubutuhkan saat ini hanyalah ketenangan. Jika pesta tak dapat menghilangkan segala macam masalah yang berkelebat di kepalaku, maka menyendiri adalah pilihan bagus.

 

Sudut mataku bergerak ke sebuah arah. Lebih tepatnya jendela kamar dengan tirai yang tertutup dan menampilkan bayangan dua orang bermesraan di dalam sana. Aku tahu betul bahwa salah seorang yang ada di dalam kamar itu adalah Ahreum. Postur tubuhnya mudah dikenali.

 

Dan respon pertamaku saat ini hanyalah tawa sarkastik.

 

“Dasar jalang.”

 


 

1. Lee Ahreum

 

Baru beberapa jam aku berbaring dan tidur nyenyak di dalam kamar, sebuah benda cair dingin dan basah diguyur pada wajahku sampai membuatku terbangun dan terbatuk-batuk. Brengsek. Siapa yang dengan seenaknya mengguyurku sampai basah seperti ini?!

 

Aku mengatur napasku yang memburu dan melayangkan lirikan tajam ke sebuah arah di mana Ayah tengah berdiri membawa ember. Wajahnya mengisyaratkan kekesalan. Seharusnya aku yang menampilkan wajah seperti itu karena dia menyiramku dengan air!

 

Dan sejak kapan dia berada di kamarku? Bukankah seharusnya dia masih di luar negeri?

 

Ayah berteriak-teriak seraya menunjuk jam di dinding yang menunjukkan pukul 07.30 AM, sementara aku mengusap wajahku yang basah menggunakan selimut. Padahal aku baru tidur selama beberapa jam saja. Kalau tidak salah aku pulang dari pesta Injung jam empat. Aku butuh waktu tidur yang lebih panjang!

 

“Sekarang bergegas mandi dan bersiap pergi ke sekolah! Sebab mulai saat ini, kau dan aku berangkat bersama. Satu mobil!”

 

Aku menoleh cepat-cepat mendengar kalimat terakhirnya. “Apa?”

 

“Ya. Kau ikut denganku. Aku harus memantaumu agar kau tak membolos dan melakukan kelakuan bejatmu di sekolah.”

 

“Berhenti mengaturku,” geramku kesal. “Sejak kapan kau peduli dan repot-repot mengurusiku daripada pekerjaanmu yang jauh lebih berharga itu, hah?” sengitku, melempar selimut dan beranjak dari kasur.

 

Kalau tidak kuarahkan, kau semakin melanggar batas yang lebih jauh, Lee Ahreum!”

 

“Ya, ya, ya. Terserah kau mau bicara apa.” Kututup daun telingaku dengan kedua telapak tangan, mengabaikan cerocosan Ayah dengan masuk ke dalam kamar mandi. Sengaja kubanting pintu kamar mandi kencang sebagai bentak pengusiran secara halusku.

 

“Aku akan menunggu di meja makan. Mau tidak mau kau ikut sarapan pagi ini bersama kami.”

 

Mengabaikan ucapan terakhir Ayah, aku membuka pakaianku dan menghidupkan shower. Hentakan kaki Ayah terdengar di luar sana, semakin lama semakin samar bersamaan bunyi pintu yang ditutup. Aku menghela napas panjang. Sengaja membiarkan pikiranku merantau jauh sambil merasakan jatuhan air shower yang dingin pada sekujur tubuhku.

 

Mendadak mataku terbuka mengingat segala kesalahan yang kulakukan. Kesalahan? Bukan, apapun yang kulakukan bukan sebuah kesalahan. Aku hanya korban di sini. Pipiku yang telah basah oleh air shower tiba-tiba menerima kedatangan cairan bening lain. Air mataku turun perlahan, berdesakkan bersama titik-titik air dingin yang berjatuhan.

 


 

Pertama kalinya meja ini diisi lengkap oleh keluargaku—kecuali sosok Ibu, tentu saja—ketika sarapan. Aku duduk tak acuh di sebelah Soojung, tepat di depan Ibu Tiriku yang melirikku aneh. Sangat disayangkan, di antara para penjilat di rumah ini, wanita itulah yang paling over protektif terhadapku. Tak jarang dia berkeliling Seoul demi mencariku jika aku kabur dari rumah dan tak pulang-pulang. Entah apa maksudnya, yang jelas, aksi heroiknya sama sekali tak menarik perhatianku. Bullshit.

 

“Dari mana saja kau semalam, Ahreum?” tanya Ayah seraya meraih gelas di depannya. Dia menatapku tajam dari balik matanya, menuntutku menjawab jujur.

 

“Rumah Injung,” balasku mengakui. Toh selama ini aku banyak mengatakan kejujuran daripada membohonginya. Kecuali beberapa hal yang tidak ingin diketahui olehnya, sebab aku mengkhawatirkan kesehatannya. Walaupun aku benci terhadap sikapnya padaku, aku masih menghormatinya sebagai orangtua.

 

“Pesta gila lagi?” Ayah meletakkan gelas berkaki panjang itu di atas meja makan. Tanpa memberikan tatapan padaku sedikit saja.

 

“Ya,” aku menjawabnya dengan nada sambil lalu. Mengambil sepotong bento yang telah disiapkan di atas piringku—mengabaikan beberapa pasang mata yang ditumbukkan padaku.

 

“Bukankah aku sudah memberimu peringatan untuk menjauhi dunia malam, hm?” pada akhirnya, dia memandangku lekat. Aku mengabaikan tatapan itu, memilih untuk menggigit bento yang sudah kupotong kecil-kecil.

 

“Dasar anak tak tahu diuntung! Jawab aku jika sedang diajak bicara, Pembangkang!” terdengar bunyi hantaman keras pada meja.

 

Mendadak suasana di meja makan berubah dari hambar menuju tegang. Aku menoleh sekedar untuk melihat ekpresi Ayah saat ini. Wajahnya memerah menahan amarah dengan mata nanar yang terus menatapku.

 

“Inilah alasan kenapa aku tidak mau sarapan bersamamu,” balasku dingin. “Dan jangan sekali-kali mengatur hidupku. Urus saja keluarga barumu dan perusahaan-perusahaanmu yang kau anggap lebih penting, daripada mengurusi masalahku.”

 

“Ahreum…,” tegur si Ibu Tiri di seberangku.

 

Soojung lebih memilih menghabiskan sarapannya daripada terjun ke dalam pembicaraan panas di meja ini. Jangan tanya kenapa. Dia hanya menutupi topeng ‘sok alim’nya di depan yang lain. Tak jauh beda dariku. Mungkin perbedaan di antara kami hanyalah soal prestasi. Keberuntungannya ada pada statusnya sebagai juara umum akademik sekolah. Bedebah soal prestasi. Bagaimana aku bisa mendapatkan prestasi kalau Ayah menghalangiku meraihnya? Dia melarangku melakukan apapun yang kusuka! Tak henti-hentinya dia mengarahkanku untuk mengikuti jejak Soojung—sebab dia pikir olahraga menembak, memanah, panjat tebing, balap motor, hanya berlaku untuk laki-laki.

 

“Seharusnya kau biarkan aku membusuk di Panti, daripada terjebak di dalam rumah yang tak jauh berbeda seperti neraka,” sinisku seraya meraih tas sekolah dan beranjak meninggalkan meja makan.

 

Tanpa banyak bicara lagi, aku melenggang gusar. Suara seruan Soojung terdengar di belakangku, diikuti oleh langkah kakinya. Tak kuhiraukan panggilannya sampai di depan pintu rumah. Dia menepuk pundakku lumayan kencang, membuatku berhenti tanpa menoleh ke arahnya.

 

“Aku memintamu berangkat bersama,” ujarnya

 

Hell, kau mengacaukan hariku,” sergahku kesal. “Jangan ikuti aku, sialan!”

 


 

Sekolah tampak mengerikan seperti biasanya. Tidak ada hal menarik. Rasanya aku ingin pergi saja dari dunia ini dan mengungsi ke Narnia. Hidup bersama makhluk-makhluk mitos, tanpa mendengarkan semua omong kosong.

 

Loker siswi dipenuhi oleh siswi-siswi yang mengambil atau meletakkan buku mereka di jam pertama. Beberapa di antara mereka memandangku aneh, sebelum akhirnya pergi. Aku memang menjadi murid yang disegani di sini, sebagian karena labeling buruk yang kusandang, sebagian lagi karena mereka tak ingin berurusan dengan berandalan sekolah.

 

Seseorang menegurku saat kututup pintu loker dengan satu bantingan keras. Park Jiyeon berdiri di sebelahku dengan cengiran lebarnya seperti biasa. Dia mengamati penampilanku dari atas sampai bawah seolah-olah menganggap aku makhluk luar angkasa yang terdampar ke bumi.

 

“Kau baik-baik saja, Sweety?” sapanya di awal. “Pulang jam berapa kemarin? Maaf, aku mabuk berat dan tidak tahu di mana kau saat itu.” Jiyeon menampilkan seraut wajah penuh penyesalannya.

 

Aku mengulum bibirku beberapa detik. “Gwaenchana. Aku tidak banyak minum, lagipula.” Kusinggungkan senyum simpul. “Aku pulang jam empat.”

 

“Wow, selama itukah kau bermain dengan Jay?” Jiyeon tertawa pelan sementara aku membalasnya dengan memutar bola mata kesal. Sambil berdeham pelan, Jiyeon bergeser semakin dekat dan merangkul pundakku. “Bagaimana permainannya, eh?”

 

“Tidak buruk. Sama saja seperti yang lain,” aku mengelus kukuku sambil mencebikkan bibir. “Well, bisa kita tidak bicarakan hal itu?”

 

“Tidak biasanya,” sindirnya, sebelah alisnya terangkat penuh tanya. Aku tidak membalas sarkasmenya itu.

 

Kepala Jiyeon bergerak ke sebuah arah. Dia menyikutku pelan seraya memberi kode dengan dagunya. Aku mengerucutkan bibir mendapati Jay berjalan beriringan dengan seorang gadis, sesama anak populer. Dia melingkarkan lengannya pada pundak gadis itu, sesekali mencium bibirnya dan tertawa lepas.

 

“Apa urusannya denganku?” tanyaku menyadari tatapan skeptis Jiyeon. “Seperti biasanya, ‘kan?” aku mengalihkan perhatianku ke arah Jiyeon yang tetap tak bergeming mengdengarkan kalimatku.

 

Kusinggungkan senyum lebar dan menggiring Jiyeon meninggalkan loker siswi. Di balik senyuman itu, sebenarnya aku menyimpan perasaan pedih. Bukan, bukan karena cemburu melihat Jay menggandeng gadis lain. Masa bodoh dengan apapun yang dilakukannya. Karena aku tahu dia seorang playboy. Aku hanya benci melihat orang jatuh cinta. Dan aku tahu, setelah melihat tawa Jay seperti itu, dia benar-benar tulus mencintai gadis itu. Aku sudah biasa dan sering dipermainkan oleh teman-teman priaku. Untuk itu aku tidak mempermasalahkan jika Jay bagian dari mereka.

 

Terkadang pula aku menganggap bahwa hidupku tidak berarti. Aku memiliki masalah dengan pola makanku—aku menyebutnya eating disorder—yang menyebabkan orang-orang sering memanggilku anoreksia. Ibuku meninggal karena si tua bangka. Dan Ayahku menikah lagi dengan perempuan lain yang menghasilkan keturunan semenjijikkan Soojung.

 

“Kau baik-baik saja, Ahreum-ya?” tanya Jiyeon memastikan ketika kami hampir sampai di kelas pertama.

 

Aku mengulas senyum simpul. “Ya, aku hanya sedang tidak enak badan.”

 

Bagi Jiyeon, sangat mudah mendeteksi kebohonganku. Kami bersahabat sejak tahun kedua SMA. Awalnya aku tidak memercayai siapapun di sini, setelah insiden penipuan itu. Tapi Jiyeon sangat tulus bersahabat denganku. Walau aku bersikap acuh tak acuh terhadapnya, dan menganggap dirinya tak jauh berbeda dengan yang lainnya—Hei, jangan salahkan aku.

 


 

Di dalam kelas, tiga kawanku yang lain tampak bercanda dan tertawa bersama. Mereka menumbukkan tatapan ke arahku sambil menyapa lantang. Bersama Jiyeon, aku berjalan mendekati mereka dan saling ber-high five ria. Belum-belum kami meramaikan kelas Bahasa Inggris dan tertawa keras.

 

Injung mengamati penampilanku dari atas hingga ke bawah seolah-olah hendak menilai setiap detil yang kukenakan. Di antara teman-temanku, Injung adalah ratu shopaholic. Berbeda dengan Dasom yang canggung. Atau Hyekyung si ratu penggosip. Dan Jiyeon si penggoda.

 

Aigo,” Hyekyung mendesah tiba-tiba, mematutkan pandangannya ke arah pintu masuk kelas, “itu dewa seksku,” senyuman menggoda tampak di bibirnya.

 

Otomatis kami saling melemparkan tatapan ke arah pintu masuk, di mana Kim Jongin alias Kai tengah berjalan dengan langkah cepat-cepat masuk ke dalam kelas. Seperti sebelum-sebelumnya saat kami berpandangan, tatapannya menusuk kedua mataku sesampainya dia melewatiku. Penampilannya tidak seberandal kemarin, sebab dia mengancing seragam dan tidak mempertontonkan kausnya.

 

Hyekyung menggigit jari-jarinya gemas, demikian pula Jiyeon dan sebagian gadis di dalam kelas ini. Aku rasa aku satu-satunya siswi yang memberikan respon yang berbeda.

 

“Baru kuingat tadi malam aku berusaha menggodanya,” Jiyeon menyahut tiba-tiba. Dan dia mendengus. “Sayangnya, dia justru mengabaikanku. Setidaknya aku bisa mengenal sepupunya yang tak kalah rupawan.”

 

Aku memutar bola mata jengah. Bisa-bisa separuh siswi di sini berubah gila hanya karena sosok murid bernama Kim Jongin. Aku duduk di bangkuku seraya mengempaskan tasku ke atas meja. Tak selang beberapa menit, Mark Seonsaengnim masuk ke dalam kelas. Sontak, seluruh murid yang tadinya gaduh dan saling memberikan pandangan kagum pada Kai mendadak berhamburan menuju bangku masing-masing.

 

Morning, everyone.” Sambut Mark Seonsaengnim seraya membenarkan letak kacamatanya.

 

Entah ini hanya perasaanku atau di belakang sana Kai tengah menatapku tajam. Bisa kurasakan tatapan tajam itu menusuk punggungku dan membuatku gelisah. Dan benar saja. Saat aku menoleh ke belakang, dia tengah memandangku lekat, seperti pandangan berisi kalimat ‘aku ingin membunuhmu’. Tidak bermaksud berlebihan, tapi orang lainpun akan sependapat denganku jika melihat tatapan itu.

 

To be continued.

Last and Goodbye

1375177_525556140856050_1199863740_n

Kris Wu Fan.

Dikenal sebagai pria yang tangguh, keren, modis, gentle dan kehidupan yang mapan.

Setidaknya itulah anggapan tetangga, fans, dan para kerabat.

Mereka yang tidak mengetahui sisi lain dari Kris yang sempurna. Mereka hanya melihat pemuda yang bermata elang tersebut dengan mata telanjang. Mereka yang tidak mengetahui kemelut persoalan yang menimpa hidupnya belakangan ini—yang sampai detik ini masih terus menghantuinya…

.

.

Bahwa Wu Yifan hanyalah seorang pecundang.

.

.

…membayangi setiap nafas yang berhembus, nadi yang berdenyut, dan jantung yang berdetak

.

.

Yang bahkan tak bisa melindungi orang tersayang.

.

.

—yang menyertai tiap derap langkahnya menuju kubangan penuh sesal.

.

.

Akibat kebodohan yang mengekang.

.

.

Karena tiada yang bisa menghalanginya untuk menuju masa depan yang bahagia, bersama sanak keluarganya… di Guangzhou sana.


 

Sang surya masih betah bersembunyi dari balik bukit yang menjulang, tak mengedarkan sedikitpun cahayanya pada penghuni dunia. Pesonanya hanya bekerja di balik layar, mendampingi penguasa malam agar pendar pucatnya tak redup dilahap si kelam bumantara.

 

Namun lelaki seperempat abad itu sudah siap di ambang pintu keluar hotel tempat ia dan rekan setimnya menginap. Membuat simpul sederhana pada tali sepatu botnya, manik hitamnya menatap singkat jelaga malam sebelum berdiri dan menjinjing ransel hitam ke bahu tegapnya.

 

Seharian pikirannya kalut. Mempertimbangkan berbagai probabilitas yang akan terjadi jika ia menuruti ketamakkannya. Bukannya ia bermaksud egois, tidak. Sama sekali tidak. Ada alasan tersendiri mengapa hal itu terjadi.

 

Kris akan mengakhiri semuanya. Profesionalitas menuntutnya untuk berpikir dengan logika, tapi hati… siapa yang bisa dibohongi?


 

 

Kini dirinya tengah berada di ujung jalan dekat hotel tempat ia menginap. Udara dingin menyapu rahang kakunya yang tak tertutup kain, memberikan sensasi dingin yang tak terasa karena hatinya saat ini jauh lebih dingin.

 

Tadinya Kris berpikir, mungkin apa yang tengah ia lakukan saat ini adalah sebuah kesalahan, kesalahan yang seharusnya ia perbaiki dan meralat semuanya dari awal…lagi. Tapi ia tak bisa membohongi perasaannya, rasa kecewanya, dan segala emosi yang selama ini ia tekan kuat-kuat. Ia tidak bisa, dan tak akan sanggup.

 

Kelopaknya memejam, menyembunyikan dua bola mata elok itu dari dunia. Perasaan sangsi itu datang kembali. Bayangan akan rekan seperjuangannya merajai belakang kepalanya. Namun, teringat akan apa yang terjadi pekan lalu kembali menjernihkan pikirannya. Ragu tak ada dalam kamus besar seorang Kris Wu.

 

Ia lesakkan kembali kepalanya untuk sejenak menengok ke belakang. Ke arah di mana gedung besar yang menaunginya berada. Di sana, duapuluh meter dari tempat ia berpijak saat ini.

 

I have to go, goodbye…my boys.

 

 

FIN.

Harsh Reality

Untitled

 

Kau mendudukkan diri di antara rerumputan yang bergerak mendayu. Pohon oak yang berada tepat di samping melindungimu dari sinar ultraviolet yang mengganggu. Kau memejamkan matamu, menikmati hembusan bayu yang menerbangkan helai demi helai rambut coklatmu.

 

Pikirmu melayang menuju sebuah masa. Dahulu; ketika kau pertama kali bertemu mereka. Menatap paras bahagia dan lelahnya untuk yang perdana. Mereka; yang kini menjadi kemelut ragamu. Tak pernah sedikitpun untuk menjauh, tak pernah. Sedikitpun bahkan tidak pernah.

 

Masih terekam erat bagaimana inginnya kau menjadi bagian dari mereka. Bertransformasi menjadi makhluk yang dianggap banyak orang hanyalah sebuah impian belaka. Makhluk yang jauh dari kata mungkin.

 

Mereka ingin kau kembali, kaupun sangat ingin mengiyakannya. Kau ingin selalu bersama dengannya namun tak mungkin dengan kenyataan yang sudah terjadi. Menjadi pengecut dan dianggap sebagai seorang yang tidak bertanggung jawab memang menyakitkan. Walau resikonya tak bisa dibilang mudah—

 

—meninggalkan kehangatan yang menyelimutimu dua tahun lamanya.

 

Dulu kau pikir itu bukanlah masalah krusial. Bersama mereka adalah sebuah prioritas utama yang tak mungkin berbuah sesal. Kini ketika kehangatan itu telah pergi seutuhnya, masih tegakkah pendirian itu, Kris?

 


 

 

Waktu yang semakin berlalu menyebabkan mentari bergeser beberapa derajat dari tempatnya semula. Cahayanya menerobos celah dedaunan, menerpa kulit telanjang seorang pemuda berdarah China. Jika saja ini dua tahun yang lalu, pasti akan sangat terasa berbeda. Sekali lagi jika dan hanya jika terjadi dua tahun sebelum semuanya seperti ini. Sebelum ia meninggalkan apa yang seharusnya tidak ia lakukan. Sebelum ia menyerah pada kenyataan.

 

Sebelum keinginannya menjadi seorang idola terkabul.

 

Ia menarik napas panjang sebelum kemudian melepaskannya dalam satu hembusan. Kepulan uap yang terlihat menandakan udara masih cukup dingin walau musim telah berganti. Mengingat kembali masa lalu dan berandai jika ia memilih jalan selain yang ia tuju sekarang, membuat kepala Yifan berdenyut cepat. Dari setiap detik yang telah berlalu, mengapa harus sekarang pemikiran itu melintas di otaknya?

 

Kenapa baru sekarang rindu akan kebersamaan merajai hati kecilnya?

 

Tak dapat dipungkiri, Yifan benar-benar merindukan bagaimana rasa hangat itu. Bagaimana rasa kebersamaan itu…kala ia masih bisa melihat mereka, bersenda gurau dan berbagi keluh kesah bersama mereka. Ia rindu semua itu. Sangat rindu. Namun apa daya, nasi telah menjadi bubur. Ia menyesalpun tak lagi berguna. Karena sejak awal ia telah tahu, opsi yang dipilihnya tak akan pernah mengubahnya untuk kembali.

 


 

 

Tak terasa satu jam sudah ia merenung di bawah pohon oak yang tumbuh rindang. Pemuda jangkung bermarga Wu itu hendak beranjak dari sana jika saja suara seseorang yang sangat ia kenal tak memasuki gendang telingannya. Dari arah utara terlihat seorang wanita paruh baya tengah berlari ke arahnya. Di belakangnya terdapat seorang gadis berkuncir kuda dengan senyum tipis di wajah.

 

“Puteraku…”

 

Wanita itu memeluknya, menjatuhkan tubuhnya dalam rengkuhan pemuda yang ia panggil ‘putera’nya barusan. Yifan tak membalas, tatapannya kosong seperti sedang memikirkan sesuatu yang tak akan dimengerti oleh siapapun.

 

Merasa ini bukan puteranya yang seperti biasa, wanita yang menyandang status sebagai Ibu dari Wu Yifan itu bertanya. “Are you sick, my galaxy… boy?”

 

Pertanyaan tadi membangunkan Yifan dari lamunannya. Senyum terpatri di bibirnya kala menatap manik yang sama persis dengan miliknya. “I’m fine, Mom.” Ia menjawab sembari meletakkan satu kecupan di dahi orang tersayangnya.

 

Usapan lembut pada pucuk kepala membuat Yifan mengadahkan kepala. Wajah cemas sang Ibu adalah panorama yang membias di retina manik obsidiannya. 

 

Are you okay?” kali ini sang gadis berkuncir kuda yang melemparkan tanya.

 

Ia hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Senyum kembali menghias paras rupawannya ketika ia menyadari satu hal yang dengan bodohnya ia lupakan beberapa saat yang lalu.

 

Memang benar kalau ia ingin mengakhiri semuanya. Mengakhiri perjalanan karirnya bersama kawan-kawannya di sana. Memberi signifikansi jarak yang nyatanya terlalu kentara. Ia tahu mereka membutuhkannya, ia tahu mereka menginginkannya kembali—ia sangat tahu. Tetapi lebih dari itu. Kasih sayang yang Ibunya dan Meyleen berikan jauh lebih hangat dari kehangatan yang pernah ia rasakan bersama mereka. Walau hanya sementara, rasa hangat itu begitu nyata karena diberikan oleh orang-orang tersayang.

 

FIN.

Cover Request

 

Some posters I ever made, for example:

 

1. No Way OutGambar

 

2. Unrequited Love

Gambar

 

3. Why?

Gambar

 

4. I’m Happy with You

Gambar

5. Truth or Dare?

Gambar

 

6. How Dare You?

Gambar

 

7. Your Voice

11

If you would like to request as shown above, fill out the form below:

1. Tittle:

2. Author:

3. Genre:

4. Cast:

5. Summary:

6. Others:


 

Love and Cheers,

Lianzanny

The Antagonist [Shot: 2]

5514_305052632977291_1780300261_n

Lantai teratas sekolah merupakan pelabuhan yang biasa dipilih gadis berambut coklat itu untuk menghindari segala hal memuakkan yang ada dalam neraka berkedok sekolah ini. Ia dudukan tubuhnya sambil bersandar pagar, dan ia dongakkan kepalanya segera menghadap birunya langit. Perlahan dadanya terasa penuh, sesak, akibat dari segala luka yang terlalu lama ia pendam seorang diri.

Matanya mulai terasa panas masih dengan tatapan kosongnya yang menuju langit, gadis itu ingat sang Ibu. Ibunya yang tersenyum cantik padanya. Namun kemudian bayangan itu hilang seiring dengan hembusan angin yang menerpa wajah putih pucatnya.

Helaan napas mengalir begitu saja dari bibirnya, mencoba menghalau rasa sakit yang semakin berpendar luas di hatinya. Kemudian entah kenapa, ia mendengus pendek dengan salah satu sudut bibirnya yang tersungging ke atas. Ahreum, gadis itu takkan pernah mau lagi menumpahkan air matanya atas segala yang sudah ia terima dalam hidupnya. Ia tak pernah mau nampak lemah dan menyedihkan di depan siapapun. Takkan mau sebentarpun terlihat seperti seorang pengemis yang minta dikasihani.

Tangan ringkihnya mulai menelusup ke saku jas sekolahnya, menggapai sebuah kotak yang memang terbiasa menemani hari-harinya. Kotak yang berisi selusin puntung rokok.

Ia ambil sebatang dan menyematkan ke sela bibirnya dan ganti meraih sebuah korek. Bukan pemandangan yang mengherankan lagi bagi orang-orang yang sudah mengenalnya, hal ini seolah sudah menjadi bagian dari kebiasaan yang sudah seharusnya ia lakukan. Merokok demi mengalihkan duka yang dirasakannya, membiarkan segala rasa sakitnya ikut tertiup angin bersamaan dengan asap yang keluar dari bibirnya.

Bip… Bip… 

Gadis itu mengembuskan asap rokoknya kasar saat mendapati ponselnya berbunyi terus sejak tadi. Sungguh mengganggu baginya.

Entah sudah berapa kali gadis itu mendengus dan mendecih saat yang ia dapati hanya pesan-pesan dari Jiyeon atau Hyekung yang selalu berisikan hal-hal yang tak pernah penting. Baginya, gadis-gadis yang mengaku sebagai temannya itu benar-benar payah. Tukang dandan dan berisik. Tak ada bedanya dengan Soojung—adiknya. Hanya saja mereka lebih brengsek.

“No. Srigala berbulu domba bernama Soojung itu lebih brengsek. Manusia munafik,” ujarnya meralat apa yang baru saja dipikirkannya.


Dengan hati yang penuh rasa enggan, gadis bernama Ahreum itu melangkahkan kakinya menuju rumah. Matahari sudah lama kembali ke peraduan, hanya saja ia memang tak berniat untuk pulang seusai sekolah. Manusia-manusia yang membuatnya jengah itu selalu memberatkan langkahnya untuk pulang ke kediaman Lee.

Sekarang sudah gelap, nyaris larut malah. Entah apa yang akan ia dapatkan begitu sampai di rumah semalam ini. Ahreum tak mau peduli.

Mata gadis berambut coklat itu sama sekali tak terkejut mendapati Nyonya besar Lee alias Neneknya sudah menghadang langkahnya begitu ia baru memasuki area rumah. Wanita tua itu menatap nyalang ke arah Ahreum, memandang dengan begitu tajam. Namun hal itu tak berarti apa-apa bagi Ahreum, bukan sesuatu yang patut ditakuti. Yang dirasakan oleh Ahreum hanya rasa bencinya yang semakin lama semakin menumpuk. Hanya tatapan datar tak berarti yang Ahreum layangkan kepada wanita tua di hadapannya itu.

“Darimana saja kau?!” Wanita tua bermarga Lee itu berkata lantang.

“Bukan urusanmu,” Ahreum melengos dan berjalan menuju ke arah kamarnya.

“Bisa-bisanya kau bicara tak sopan padaku?!” 

“Bukankah aku selalu begini, lalu apa masalahmu?!” Ahreum menghempaskan tangan wanita tua itu dari lengannya.

“ANAK TAK TAHU DIUNTUNG!”

“DIAM! KAU TIDAK BERHAK BERTERIAK PADAKU!!!” jerit Ahreum sambil menuding-nuding Neneknya.

“APA?! APA KATAMU?!” Wanita tua yang tak pernah mau diakui Ahreum sebagai Neneknya itu makin melebarkan matanya tak percaya.

“KAU PIKIR SIAPA KAU BISA MENERIAKIKU?!!”

Si wanita tua itu segera merebut tas milik Ahreum dan segera memukul-mukulkannya ke tubuh Ahreum.

“Kurang ajar! Tak tahu terimakasih! Sudah untung bisa hidup di sini, dasar parasit!” maki si wanita tua itu sambil terus menghantamkan tas di tangannya ke tubuh Ahreum. “Nenek, sudah. Jangan seperti ini,” tiba-tiba Soojung datang tergopoh-gopoh dan segera menjauhkan tangan Neneknya dari Ahreum.

Dugh! 

“Tak usah ikut campur kau, manusia munafik!” Ahreum segera mendorong tubuh Soojung kasar sampai adik tirinya itu jatuh tersungkur.

“Berani sekali kau menyakiti cucu kesayanganku!” Wanita tua bermarga Lee itu menarik helaian surai Ahreum saat melihat Soojung terjatuh. 

“Nenek, kumohon hentikan… Sudah, Nek.” Soojung kembali mencoba menengahi kedua orang yang sedang bersitegang itu. Gadis manis ini sungguh kesulitan menghadapi dua orang yang sama-sama memiliki sifat keras kepala.

Sayang sekali Ayah dan Ibu sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnis.

“Argh! Lepas!” akhirnya Ahreum berhasil melepaskan surainya dari jemari Si tua bangka di hadapannya itu dan bergegas menjauhkan dirinya dari rumah neraka ini.

Eonni!” Gadis dengan rambut yang berantakan itu terus melangkah cepat tanpa ada niat secuilpun memedulikan panggilan adik tirinya.

Berlari sendirian sambil menahan perih di hatinya, di tengah gelapnya malam yang semakin larut. Berlari saja tanpa tujuan yang pasti, masih dengan seragam sekolah yang memeluk tubuhnya yang mulai kedinginan.

Kedua tangannya melingkari tubuhnya sendiri sambil terus berjalan. Dadanya naik turun agak cepat dan napasnya tersengal. Rasa bencinya nyaris meluap dan tak terbendung lagi. Dan kata ‘mati’ kembali berputar-putar di kepalanya—menggaung di kedua telinganya.

“Mati? Aku yang mati? Jangan harap! Mereka akan hancur, kupastikan itu!” gumamnya sambil memandang kosong ke depan, masih dengan kaki yang tak mau berhenti melangkah.


Musik berdentum-dentum dengan keras dan begitu memekakkan telinga, namun hal itu sama sekali tak berpengaruh apa-apa pada Ahreum yang sibuk menyesap minumannya di meja bar.

Bagi orang awam tentu akan aneh melihat seorang siswa sekolah menengah datang ke tempat seperti ini dengan memakai seragam lalu minum-minum, namun nyatanya tak ada seorangpun yang memandang Ahreum dengan tatapan aneh. Seisi bar sudah mengenal gadis itu, terlebih sikapnya yang bitchy tersebut telah membuatnya semakin populer di kalangan kaum lelaki.

Honey, kenapa kau memakai seragam begini?” bisik seorang pemuda di depan telinga Ahreum setelah sebelumnya melingkarkan lengan kekarnya ke pinggang ramping gadis itu.

“Oh, please Jay. Leave me alone,” titah Ahreum sambil memandang wajah pemuda sipit bermarga Park itu dengan malas.

“Kenapa, Sayang?” Pemuda Park itu tak jua menyerah, ia malah semakin giat melancarkan aksinya. Tangannya mulai merambat nakal menuju dada Ahreum.

“Kau tahu? Aku bosan denganmu, enyahlah,” Ahreum mendorong tubuh Jay menjauh darinya dan melangkah menuju lantai dansa.

Ahreum yang mulai merasa kegerahan kemudian membuka jas seragamnya dan menyampirkannya ke salah satu sofa bar. Lalu ia membuka tiga kancing teratas kemejanya, membuat sesuatu yang ada di dalamnya menyembul dan cukup terekspos.

Begitu sampai di dance floor, kepalanya mulai bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti irama musik yang berdentum-dentum itu. Dan semakin lama tubuhnya mulai ikut bergerak sesuai dengan hentakan musik yang semakin terasa seru baginya.

Seakan hanyut dengan suasana, tubuh gadis itu mulai bergerak liar. Mengacuhkan penari lain yang juga sedang menari. Meliuk-liuk seksi dengan semaunya tanpa memedulikan pandangan banyak pemuda yang mulai menatapnya penuh hasrat namun tak ada niat untuk mendekat.

Berbeda dengan pemuda yang kini sedang duduk di sudut ruang bar dengan matanya yang ikut memerhatikan benar gadis yang tengah bergerak liar di atas lantai dansa itu. Sebuah seringaian terlukis di bibir tebalnya seiring dengan suatu rencana yang menghinggapi kepalanya.

Dengan percaya diri dan tanpa ragu sedikitpun, pemuda itu mendekat ke arah Ahreum yang masih hanyut dalam tariannya.

Pemuda itu berdiri tepat di hadapan Ahreum masih dengan seringaian andalannya. Kemudian dengan sekali hentakan, tubuh Ahreum sudah berada dalam kungkungan pemuda itu. Seolah takut Ahreum akan pergi, pemuda itu mencengkram erat pinggang ramping Ahreum dengan salah satu lengan kekarnya. Mau tak mau Ahreum memandang wajah pemuda yang telah beraninya menghentikan kegiatannya itu. “Anak baru yang tadi siang rupanya,” ujar Ahreum dingin setelah sebelumnya ia sempat mendengus saat mengetahui pemuda yang kini merengkuhnya itu.

“Kau terpesona padaku, eoh?” Ahreum berbisik seduktif sambil memajukan wajahnya sampai hidungnya dan hidung pemuda itu bersentuhan. Aroma mint yang menguar dari terpaan napas pemuda itu sedikitnya membuat Ahreum hanyut, terlebih mata pemuda itu menatapnya tepat ke matanya. Seolah menenggelamkan kesadaran Ahreum dalam kubangan yang tak berujung.

“Mmmhh…”

Pemuda itu tiba-tiba memagut bibir Ahreum dengan cepat. Meraup bibir gadis itu dengan rakus dan kasar, mengirimkan sejuta sengatan aneh ke dada masing-masing.

“Eungh…”

Pemuda itu menggerakan bibirnya semakin liar di atas bibir Ahreum. Menghisap bagian bawah dan atas bibir gadis itu bergantian dengan menggebu. Deru napas keduanya saling bertumbukan seiring dengan ciuman mereka yang semakin dalam.

“Bastardmmhh…” Ahreum hanya bisa mendesah pasrah saat pemuda ini dengan begitu mahir memainkan bibirnya di atas miliknya. Membuatnya hanyut dan tanpa sadar membalas ciuman pemuda itu tak kalah liar seiring dengan gairahnya yang mulai memuncak perlahan.

Salah satu tangan pemuda itu merambat ke leher putih gadis itu dan segera menariknya agar ciuman mereka semakin intens. Sedang tangan satunya meremas lembut pinggang ramping Ahreum kemudian bergerak seduktif membelai punggung gadis itu.

“Fuck you dumbasshmm…” Dan dengan terpaksa Ahreum membiarkan lidah pemuda itu menelusuri mulutnya saat pemuda itu menghisap kuat bibir bawahnya. Dan Ahreum semakin ingin menggeram frustasi saat daging tak bertulang pemuda itu mengaduk-aduk isi mulutnya dan menghantarkan nikmat yang amat sangat kepada Ahreum. Membuat kedua kaki gadis itu bergetar seolah tak kuat lagi menahan bobot tubuhnya akibat ciuman si pemuda yang begitu memabukkan. Such a good kisser.

Dan tanpa sadar Ahreum menyayangkan ketika ia harus memutus ciumannya saat dirasa dirinya mulai kehabisan napas, gadis itu mendorong tubuh sang pemuda pelan. Benang-benang saliva seolah membuat sebuah jembatan antara bibirnya dan bibir pemuda itu.

Seakan tak rela jika ciumannya berakhir, pemuda itu beralih mengecupi bibir Ahreum kemudian berpindah ke pipi dan menuju rahang lalu berakhir di leher putih Ahreum. Menjilati perpotongan leher Ahreum kemudian menghisapnya kuat, meninggalkan tanda merah keungungan di kulit putih gadis bermarga Lee itu.

“A-ah…”

“Hei, aku… Kim Jongin,” bisik pemuda itu dengan suara rendahnya yang seksi di depan telinga Ahreum yang tengah terengah menekan hasratnya yang nyaris memuncak karena pemuda tampan yang baru saja menciumnya.

To be continued.


 

P.s. bagi yang masih bingung sama ceritanya, bisa kilas ulang di shot sebelumnya ya. Dan sedikit warning, ini fict kolab pertamaku sama teman aku, jadi kalo nemuin gaya tulisan dari chapter ke chapter yang cenderung beda, tolong dimaklumi. Karena aku sama Selena sepakat untuk nulis chapter secara bergilir, dan ini chapter buatan temenku itu. Gak bingung kan? Moga enggak ya xD

Review selalu ditunggu ^^

 

 

[HunShin/Rated] Mischief while being Sick

Gambar

 

Berdiri di pinggir tempat tidur, aku menatap wajah Sehun yang matanya terpejam. Ada sesuatu yang menggelitik perutku saat melihat bulu matanya yang panjang membentuk bayangan di bawah matanya. Rasanya dunia benar-benar tidak adil karena menciptakan pria dengan paras sempurna yang berubah menjengkelkan tiap kali ia membuka mulutnya.

 

“Sudah sebesar ini, masih saja keras kepala. Bagaimana kalau tak ada aku? Sudah kupastikan kau akan membusuk di pinggir jalan,” gerutuku. Aku mengulurkan pergelangan tanganku yang menggenggam kompres untuk diletakkan di dahi lebarnya. “Sial kau, aku memberimu payung ‘kan untuk dipakai, bukan sekedar dijadikan pemanis penampilan.” Kataku benar-benar tak sabar.

 

Tiba-tiba bibir Sehun membentuk senyuman. Aku hampir menarik tanganku karena kaget, tapi ia menahan tanganku untuk tetap diam. Mengelusnya sebentar, sebelum kemudian memindahkan tanganku ke bibirnya. Aku menyentaknya. Namun, alih-alih berhenti dan melepaskan tanganku, lidahnya—yang dengan kurang ajarnya—menyusuri nadiku dan meninggalkan jejak yang panas dan basah. Mata gelap Sehun terbuka. Ia mengunci tatapanku sambil terus menikmati kegiatan ‘terlarang’nya itu. Rasanya begitu erotis hingga aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak mengerang. “Hentikan,” tapi suaraku begitu lemah hingga malah terdengar seperti permohonan daripada perintah.

 

Aku terkesiap dan dengan sekuat tenaga langsung menariknya. Ternyata Tuhan masih memberkatiku, aku berhasil. “Jangan lakukan itu!” bentakku dengan wajah yang terasa panas. Aku menekan tanganku di jantungku yang menghentak kencang.

 

Si Oh ‘sialan’ Sehun itu malah terkikik geli, lantas berguling ke samping. “Nuna…gumawo,”

 

Aku mendengus. “Jangan merayuku,”

 

“Bukan Sayang, terimakasih.”

 

Dan aku hanya mencebik sebal. “Hm, jangan ulangi lagi.”

 

Senyumnya melebar. “Tak akan, aku janji.” Ia melirikku sebentar sebelum kembali berujar, “Nuna sudah makan?”

 

“Harusnya itu yang kutanyakan padamu,”

 

Alis Sehun terangkat. Pandangan spekulatif yang diberikannya membuatku gelisah. Aku ingin menambahkan sesuatu, tapi tiba-tiba ia mengulurkan tangannya yang lain dan mengacak rambutku gemas. “Aku sudah, kok,” sahutnya.

 

“Aku belum,” jawabku, tidak melihat alasan kenapa harus berbohong.

 

“Tsk. Itulah kenapa aku mengkhawatirkanmu Nuna…” Sehun menyisir rambutku dengan jari-jarinya dan terus mengunci tatapan matanya.

 

Napasku tercekat saat dia menggenggam tanganku semakin erat. Kehabisan kata-kata, aku mulai melantur. “Jangan pedulikan aku, pedulikan saja dirimu. Lihat, kau bertingkah seperti anak kecil.”

 

“Aku memang anak kecil, apalagi saat bersamamu,” cengirnya, “itu menyenangkan, tahu.”

 

Dasar bocah tengik.

 


 

Kulitnya mulai kembali ke warna aslinya, tidak sepucat tadi. Suhu badannya telah kembali normal, aku jadi lega. “Sudah enakkan?”

 

Sementara itu Sehun masih memainkan helaian rambutku. Ia memutar-mutar jemarinya dari ujung rambut sampai pangkalnya, kemudian melepas helai ikalnya untuk diulang lagi. “Sudah,” senyumnya mengembang.

 

Sebelum aku sempat bertanya lagi, ia melanjutkan. “Semuanya akan baik, jika Nuna yang merawatku,” ia berhenti dan tersenyum saat melihat mataku yang melebar.

 

“Bagaimana bisa kau kehujanan, padahal kau membawa payung?”

 

Sehun menyisir rambutku dengan jemarinya dan kembali memainkannya. Tersenyum, ia berbisik. “Rahasia, dong.”

 

Aku merengut. “Apanya yang rahasia, itu sih tolol namanya.”

 

Sehun tampak tak peduli. “Hm, kemarilah Nuna. Kau membuatku nyaman,”

 

Mataku langsung menyipit curiga. Aku bersiap untuk melangkah mundur, tapi sebelum aku sempat menolak dan menarik diri, ia sudah menangkap pergelangan tanganku. Menariknya hingga tubuhku terjatuh di atas tubuhnya yang keras. Pergelangan tanganku terpenjara di dalam genggamannya.

 

Si tengil itu menambah tarikan di lenganku, memaksaku mencondongkan tubuh lebih jauh ke arahnya. Aku tersentak saat mendapati kulit telanjang kencangnya yang ditutupi bulu halus di dadanya. Dan ketika wajah kami berdua berhadapan, aku terengah, melihat kilat lapar berkelebatan di mata gelap pemuda itu.

 

Lengan panjangnya melingkari belakang kepalaku dan oksigen seperti terampas dari udara ketika ia menciumku dengan keras. Tidak, bukan ciuman, ini adalah rampasan. Dan pemuda itu mengambil sepenuhnya. Merampas seluruh pikiran dan kehendakku. Ia meraup rambutku dan meremasnya sambil memiringkan kepalaku.

 

“Demam…mu…” engahku saat ia menggigit bibir bawahku.

 

“Tak akan menghentikanku.”

 

Aku terkesiap saat tiba-tiba ia berguling dan membuat punggungku menekan ranjang. Ia bergerak di atasku, besar dan tinggi, kembali menciumku seolah ingin melahapku hidup-hidup.

 

Suara sepatu yang terjatuh ke lantai keramik menyentakku. Aku menggigit bibirnya sampai merasakan darah, mengulum esensinya dengan keras. Manis seperti ceri dari Surga, mungkin rasa dirinya terasa hampir seperti itu.

 

Tangannya menangkup dadaku dan meremasnya, membuat erang tersendat keluar dari napasku yang terasa sesak. Tangannya yang lain bergerak di pahaku dengan tidak sabar. Mulutnya meninggalkan mulutku untuk memulai pencarian menggairahkan di leher, mengikuti jejak saraf halus turun ke tempat pundak dan leherku bertemu. Ia menempatkan diri lebih berat lagi di antara tungkai kakiku, memberiku berat badannya hingga aku merasakan tubuhnya yang kokoh menekan intim.

 

Aku terkesiap kaget. Ini terlalu banyak. “Hentikan…kau…” anehnya suaraku keluar dalam bentuk erangan tertahan.

 

Seiring tiap gerakan, lebih banyak lagi sensasi terungkap, tepi kelembutan gairah mendadak berubah menjadi keliaran peka. Ia menguasai mulutku dengan ciuman yang lama dan memabukkan sementara di bagian bawah pemuda itu memulai irama samar, mendesak, dan meluncur, menggunakan tubuhnya untuk membuatku bungkam. Aku menggeliat, putus asa mencoba untuk mengikuti kekokohannya. Entah kenapa meskipun seharusnya terasa salah, tapi aku merasa ini semua begitu benar, begitu liar, begitu menyenangkan hingga membuatku takut.

 

Dan aku selalu membenci ketakutan dalam jenis apapun.

 

“H-Hun—ugh! A-aku sedang…” kataku terengah.

 

Tubuh Sehun menegang. “Haid?” bibirnya yang berada di dadaku terasa panas saat lidahnya mulai bergerak. “Ada banyak cara untuk menjagamu tetap seperti itu,” bisiknya serak.

 

“Tidak!” aku meraung putus asa. Menggeliat meskipun percuma. “Lepaskan aku sebelum aku membiarkanmu melakukan perbuatan yang pasti akan kau sesali!”

 

Sehun merobek kemeja yang kupakai, diikuti dengan bra-ku dalam satu sentakan. “Menyesal? Aku?” tanyanya skeptis dengan seulas senyum arogan. Ia merendahkan wajahnya dan menggigit bagian sensitif yang membuatku menggigit bibir.

 

Aku tersentak, meremas rambut Si tengil itu untuk menghentikannya. “Tidak…” engahku. “Kau tidak bisa, tidak.”

 

Sehun menggeram. Ia kembali merampas suara dari bibirku ketika ia membungkamnya dengan ahli. “Umngh…Nuna…” Digigitnya bibir bawahku dengan keras. “Jangan membantahku,” geramnya kesal. 

 

Mataku melebar. Wajahku terasa memanas saat ia mengunci pergelangan tanganku di atas kepalaku dengan mudah.

 

Sehun menyurukkan kepalanya di leherku. Berbisik di telingaku, “Nuna, kau merah sekali, seperti buah delima yang siap dibelah isinya.” Ia terkekeh pelan, tawa yang menjanjikan getaran dan dosa. “Sayangnya, aku tidak bisa merasakan rasanya karena buah itu sedang dalam masa pemulihan.”

 

Setelah mengucapkan kata ambigu yang membuat tubuhku membeku, Sehun menarik dirinya, tidak mempedulikan ketelanjangannya saat ia berdiri. “Jangan memasang wajah seperti itu, Nuna-ya. Aku akan menerkammu lagi kalau kau tetap berta—”

 

Aku mengerjap kaget, “Oh Sehuuun!”

 

“O-ow…” Ia mengedipkan sebelah matanya, kemudian menghilang begitu saja seperti baru dihela sapuan angin.

 

Tertegun dan masih terbaring di atas ranjang, aku mendapati kulit dan pakaianku yang berakhir mengenaskan atas perbuatan tidak bertanggung jawabnya itu.

 

“Oh Sehun sialaaan! Kemari kau!”

 

Fin.